Selasa, 08 Juli 2014
HIDUP SEDERHANA
Roti kering yang anda makan dipojok rumah, dan seteguk air yang anda minum dari
rizki yang bersih, dan kamar sempit yang anda huni dengan penuh keridloan, itu
semua lebih baik dari pada kemegahan istana yang membawamu ke neraka. (Abu
Atahiyyah)
Kekurangan itu hal yang biasa, tidak usah anda pusing kepala, ataupun setres,
yang terpenting bagi anda adalah bagaimana menjadikan kekurangan itu sebagai
sebuah kelebihan, ajang meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Jangan sampai hidup yang serba kekurangan, dijadikan alasan untuk meninggalkan
ibadah, dan jauh dari bimbingan agama, karena betapa banyak orang yang menjual
agamanya, oleh karena alasan ekonomi dan kefakiran.
Bukankah kebanyakan para sahabat itu adalah orang-orang yang hidup dalam
kekurangan? Akan tetapi kekurangan itu, sedikitpun tidak mengurangi ibadah
mereka kepada Allah, dan tidak menghalangi mereka untuk mencari kelebihan
anugrah dan ridla-Nya.
Imam Buhari menyediakan bab khusus di dalam kitab sahihnya, yang menceritakan
kesederhanaan para sahabat Rasulullah SAW, diantaranya adalah Abu Hurairah ,
Simaklah kisah berikut ini :
Abu Hurairah menceritakan kehidupannya :
“ Aku adalah laki-laki yang miskin yang selalu mendampingi Rasulullah SAW,
walaupun terkadang dalam keadaan perut kosong. Sedangkan para sahabat Anshar
mereka menyibukkan diri berdagang dipasar untuk mencari rizki. Suatu ketika
Rasulullah SAW berkata kepadaku :
من يبسط ثوبه فلن ينس شيئا سمعه مني
“Barangsiapa yang membeberkan bajunya, maka tidak akan lupa dari apa yang ia
dengar dariku”
Maka aku pun membeberkan bajuku sampai beliau selesai dari perkataannya.
Kemudian baju itu aku peluk erat kebadanku, maka sedikitpun aku tidak lupa dari
apa yang aku dengar dari beliau. (HR. Buhari)
Perut kosong bukanlah alasan untuk meninggalkan ibadah
subhanallah…hidup
yang serba kekurangan
,ternyata tidak menghalangi Abu Hurairah untuk
belajar hadits dari Rasulallah, demi untuk memperbaiki kualitas ibadahnya.
Bahkan, hadits- hadits yang diriwayatkannya mencapai 5.384 hadits , padahal
beliau masuk Islam pada tahun ke tujuh Hijriyah, diusianya yang ke dua puluh
tujuh tahun. Ini berarti beliau hanya menjumpai Rasulullah SAW kurang lebih
empat tahunan, karena RAsulullah SAW wafat tahun 11 Hijriyah.
Ternyata Abu Hurairah tidak sendirian didalam masalah kekurangan ma’isyah.
Disana ada para sahabat Muhajirin rela meninggalkan rumah dan harta serta anak
istrinya demi hijrah untuk menyelamatkan agama mereka dari kekufuran. Mereka
hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, tinggal di emperan Masjid Nabawi di
Madinah,walaupun demikian, tidak sedikitpun mengurangi ibadah mereka kepada
Allah, justru mereka menjadikan kekurangan itu sebagai ajang mendekatkan diri
kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmanya :
Yò:
W£WÍSÉ<ÕYÖ WÝÿX£YHTWäSÙ<Ö@
WÝÿY¡PVÖ@
N
éSX£`TRK
ÝYÚ óØYåX£HTTWTÿY
`yXäYÖ.Wé`ÚVK
Wè WÜéTSçÅWT`WTÿ ¾pµWTÊ WÝYPÚ JðY/@
_Tß.Wép¶Y¤Wè
WÜèS£S±ÞWTÿWè JðW/@
,I&SãVÖéSªW¤Wè ðÐMXù;HTTVÖOèKR
SØSå WÜéSTÎYHTUfT±Ö@
(8)
“Dan para sahabat Muhajirin yang faqir, yang diusir dari rumah-rumah dan harta
mereka di makkah, mereka itu selalu mencari anugrah dari Allah dan ridla-Nya,
dan mereka selalu menolong agama Allah dan sunah Rasul-Nya, mereka itulah adalah
orang yang benar imannya. ( QS.Al-Hasr : 8 )
Suatu ketika Rasulullah barsama tujuh sahabatnya, mereka semua dalam keadaan
perut yang kosong , lapar dan dahaga, kemudian Rasulullah mengeluarkan kantong
makananya, ternyata hanya terdapat beberapa butir kurma saja, kemudian
Rasulullah membagikan kurma tersesebut, setiap orang hanya mendapat satu butir
kurma (HR. Ibnu Majah)
Subhanallah.. betapa sederhananya hidup mereka, walaupun dalam keadaan serba
kekurangan Rasulullah SAW masih tetap saja berbagi dengan para sahabatnya. Susah
senang mereka bersama-sama saling merasakan, demikian pula sedih tangis mereka
selalu bersama untuk menghadapinya.
Saudaraku…Lihatlah Rasulullah yang tidak pernah kenyang perutnya dari makanan
yang lezat, tidur bertikarkan pelapah kurma yang membekas dilambungnya, baju apa
adanya yang sederhana. Hidup yang seperti ini ternyata tidak mengurangi
ketaqwaannya kepada Allah.
ماشبع آل محمد منذ قدم المدينة من طعام البر ثلاث ليال
تبعا حتى قبض
Keluarga Muhamad SAW dalam keadaan lapar selama tiga hari berturur-turut
semenjak datang dari Madinah, sampai beliau diwafatkan oleh Allah.
( HR. Bukhari- Muslim )
SURGA RINDU FUQORO’
Jika anda seorang yang kurang kecukupan, jangan cemas…, sesungguhnya harta
bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan di dunia ini, hanya imanlah sumber
kebahagian, dan amal soleh itulah deposito kekayaan akhirat.
Orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surga lebih cepat lima ratus tahun
dibandingkan dengan orang mu’min yang kaya.
Sesungguhnya surga sangat merindukan orang-orang fakir yang sabar dan ridlo,
jauh dari keluhan yang kurang berarti, dan semakin mendekatkan dirinya kepada
Allah.
Bukankah orang miskin beban hisabnya lebih ringan lima ratus tahun dibandingkan
hisabnya orang kaya! ya.. lima ratus tahun saudaraku.., waktu yang begitu lama
nan panjang.
Penderitaan anda didunia ini mungkin tidak ada nol koma persennya, dibanding
penderitaan mereka orang kaya yang kufur, di akherat nanti. Maka dari itu
bersabarlah…, jangan cemas…, surga merindukanmu!
Cobalah sambut kabar gembira dari Rasulullah SAW dibawah ini , dengan wajah
tersenyum dan berseri-seri;
يدخل فقراء المؤمنين الجنة قبل أغنيائهم بخمسمائة عام
Orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surga lebih cepat lima ratus tahun
dibandingkan dengan orang mu’min yang kaya.
( HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
نظرت إلى الجنة فإذا أكثر أهلها المساكين، ونظرت إلى النار فإذا أكثر أهلها النساء،
وإذا أهل الجد محبوسون ، وإذا الكفارقد أمر بهم إلى النار
Rasulullah bersabda : Aku melihat ke surga, ternyata kebanyakan penghuninya
adalah orang-orang miskin, aku melihat ke neraka, ternyata kebanyakan
penghuninya adalah para wanita, pada saat itu pula aku menyaksikan orang-orang
kaya masih terkekang dalam hisab, padahal orang-orang kafir telah diperintahkan
untuk masuk neraka. ( HR. Ahmad )
Ya akhii.. kemiskinan yang mendekatkanmu kepada Allah itu lebih baik, dari pada
hartamu melimpah tapi melalaikanmu dari mengingat-Nya.
Cukuplah sepotong roti yang membantu meluruskan tulang rusukmu untuk shalat dan
membaca ayat-ayat Allah, itu lebih baik dari pada makanan pesta yang berlimpah
yang melalaikanmu dari waktu shalat dan berdzikir kepada-Nya.
Cukuplah seteguk air yang anda dapatkan dari hasil keringatmu sendiri itu lebih
baik dari pada segelas air dari hasil meminta-minta.
Sepotong roti yang mendekatkan anda kepada Allah, itu lebih baik daripada
hidangan pesta Cukuplah sesuap nasi yang engkau dapatkan dari sebongkok kayu
yang engkau angkut dipunggungmu dengan jalan yang halal itu lebih baik dari pada
sepiring nasi, akan tetapi dari hasil mencuri ataupun menipu orang lain. karena
semua itu tidak mendatangkan keberkahan dan menjadi sebab ditolaknya ibadah
anda.
Rasulullah saw bersabda :
Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik.Dan
sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan
para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan
beramalshalehlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah
yang baik-baik dari apa yang Kamirizkikan kepada kalian.
Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan
kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Ya
Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram,pakaiannya haram
dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya)
bagaimana doanya akan dikabulkan. (Riwayat Muslim).
Mungkin masih tersimpan dihati anda sebuah niat : “ Seandainya harta saya
cukup, maka pahala saya akan bertambah banyak, karena denganya aku mampu
bersedekah”. Jangan cemas ! Niat anda sudah dicatat oleh Allah sebagai amal
shaleh, dan ingat bersedekah tidak hanya dengan harta benda saja, akan tetapi
banyak cara untuk melakukannya, sebagaimana penjelasan hadits dibawah ini :
Dari Abu Dzar Radhiallahuanhu berkata :
Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa
sallam berkata kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam: “ Wahai
Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak,
mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan
mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat
melakukannya).
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Bukankah Allah telah
menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah ? Sesungguhnya setiap tashbih
merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan
sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan
sedekah dan pada kemaluan kalian terdapat sedekah. Mereka bertanya
: Ya Rasulullah masakah dikatakan berpahala seseorang diantara kami yang
menyalurkan syahwatnya ?, Beliau bersabda : Bagaimana pendapat kalian seandainya
hal tersebut disalurkan dijalan yang haram, bukankah baginya dosa ?, Demikianlah
halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal,maka baginya
mendapatkan pahala.(HR.Muslim )
Rabu, 27 Juni 2012
BADUI YANG UMMI PUN HAPAL AL-QUR’AN
BADUI YANG UMMI PUN HAPAL AL-QUR’AN
Oleh : DR.Ahmad Alim,Lc,M.A
Merupakan nikmat yang agung yang saya terima di bulan Sya’ban Tahun ini adalah saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi tanah suci kembali. Kunjungan kali ini, saya mewakili Universitas Ibn Khaldun Bogor, dalam rangka mengikuti “Daurah Shaifiyah li asatidzah al-lughah al-arabiyyah”, sebuah training internasional untuk dosen-dosen bahasa Arab dan Studi Islam yang di adakan di Universitas Ummul Qura Mekah. Daurah ini pada mulanya digagas oleh Imam Masjidil Haram yaitu Syaikh DR Abdurrahman Sudais, yang disetujui oleh pihak kerajaan, dan diamanahkan kepada Universitas Ummul Qura sebagai pihak pelaksananya.
Dalam daurah ini, banyak ilmu yang saya dapatkan, lebih-lebih dalam masalah metodologi pengajaran bahasa arab untuk orang non Arab (al-arabiyah lighairi nathiqina biha). Lebih dari itu, rutin setiap selesai pelajaran di kelas, para peserta dibawa oleh pihak universitas untuk mengunjungi situs-situs sejarah tanah suci, dan menapak tilas perjuangan Rasulullah saw dan para shabatnya di Mekah dan Madinah.
Salah satu kunjungan yang sangat terkesan di benak saya, yaitu kunjungan ke jam’iyyah Tahfidz Al-Qur’an Masjidil Haram, sebuah lembaga tahfidz Al-Qur’an yang terletak di lantai dua masjidil Haram, tepatnya dekat pintu Mailk Fahd. Di situ, kami menyaksikan dua ribu para penghapal Al-Qur’an yang sedang khusyu’ menyetor hapalan mereka, mulai dari anak usia 4 tahun sampai dengan usia manula. Rasa penasaran dan kagum menyelimuti hati saya saat itu, betapa harunya saya melihat anak-anak usia dini melantunkan ayat-ayat Allah dengan begitu fasih dan merdu, saya coba dekati salah satu diantara mereka yang masih belia, kira-kira usia anak SD dan bertanya kepadanya, subhanallah.... ternyata ia dari Burma Mianmar yang sudah hapal Al-Qur’an di usia 10 tahunan.
Di sela-sela kunjungan, kami ditemani oleh Syaikh DR. Hasan Al-Bukhari,Al-Khafidz., beliau adalah bermarga Bukhari seorang ulama hadist terkenal yang tidak asing dikalangan kaum muslimin dunia. Beliau adalah ulama yang tawadhu, santun, ramah, dan berilmu tinggi. Nasehat-nasehat yang keluar dari lisannya, begitu menggugah jiwa siapa saja yang mendengarnya, bahkan tak jarang dari mereka yang meneteskan air mata, karena terharu dan tersentuh nuraninya.
Dalam kesempatan tersebut, Syaikh DR Hasan Al-Bukhari menyampaikan nasehat-nasehatnya pada kami tentang keutamaan menghapal Al-Qur'an. Bahwa tidak ada alasan bagi para pencari ilmu untuk tidak hapal Al-Qur’an. Al-Qur’an mudah dihapal, jaminan ini bukan datang dari manusia, tetapi datang langsung dari firman Allah,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS.Al-Qamar 54:17)
Singkatnya, menghapal Al-Qur’an adalah semudah tersenyum. Sulit tidaknya tersenyum adalah tergantung kondisi hati yang bersangkutan. Tentu senyum sulit bagi orang yang hatinya dipenuhi kedengkian, dan sebaliknya, mudah bagi orang yang hatinya tulus dan bebas dari penyakit. Demikian juga dengan Al-Qur’an mudah dihapal bagi orang yang hatinya bersih dan memiliki tekad yang kuat. Sebaliknya sulit bagi orang yang hatinya kotor dan lemah cita-cita.
Selanjutnya Syaikh Hasan mengisahkan fakta yang dijumpainya di salah satu perkampungan dekat Madinah Munawarah. Saat itu, beliau menyampaikan muhadharah (pengajian) dengan tema keutamaan Al-Qur’an dan menghapalnya. Hadir di situ ratusan warga setempat dengan penuh antusias menyimak apa yang diutarakan oleh syaikh. Selesai pengajian, tiba-tiba ada seorang badui, usianya sudah setengah baya, dengan wajah terharu, dan terbata-bata ia mulai berbicara, "wahai syaikh sesungguhnya aku hanyalah seorang badui yang hanya bisa menggembalakan onta di padang pasir, saya “ummi” alias tidak bisa membaca apalagi menulis, tetapi setelah mendengar nasehat antum tadi, subhanallah hati saya amat terharu, hati kecil saya tergugah dengan lantunan ayat Al-Qur'an, demi Allah saya ingin mengisi sisa umur saya ini dengan Al-Qur'an, tolong syaikh, tolong ajari saya, ajari saya....", Syaikh Hasan menatap wajah badui tersebut dengan mata berkaca-kaca, terharu akan semangat dan antusias yang keluar dari nurani seorang hamba yang jujur dan ikhlas, seraya beliau berkata," walaqad yassarnal qur'ana liddzikri fahal min mudzakir, sungguh Allah telah memudahkan Al-Qur'an untuk dihapal bagi orang-orang yang memang tulus untuk mengambil pelajaran darinya". Sesaat Syaikh Hasan terdiam sejenak, berfikir apa yang harus dilakukan untuk membantu memudahkan hapalan sang badui tersebut. Tidak lama kemudian, beliau berkata, " saudaraku, insyaallah saya akan kesini lagi bertemu denganmu minggu depan, ada sesuatu yang ingin saya hadiahkan untukmu". Mendengar hal itu, sang badui pun menganggukkan kepala, tanda bahwa ia setuju dan sepakat dengan apa yang dijanjikan oleh Syaikh Hasan tersebut. Waktu berlalu, tidak terasa hari yang ditunggu telah tiba. Tampak dari sosok laki-laki yang mengenakan jubah putih yang dilengkapi serban putih terurai di kepala yang tidak lain itu adalah Syaikh hasan, di tangannya tampak bingkisan yang dijanjikan minggu yang lalu, dengan senyum yang begitu khas dan wajah yang begitu ramah syaikh Hasan menyapa seraya berucap assalamu'alaikum ya akhil habib, sambil memeluk sang badui yang sudah sejak tadi menunggunya di depan pintu masjid, "barakallahu fikum, kaifa halukum, hayyakumullah, kaifa ahlikum..... semoga Allah memberkahimu, bagaimana kabarmu, semoga Allah memuliakanmu, bagaimana kabar keluargamu...". Subhanallah..... kata-kata indah yang penuh berkah, penyejuk hati, pelipur jiwa, seakan embun yang menetes di padang pasir yang gersang. Kebiasaan ini sudah menjadi ciri khas syaikh Hasan ketika bertemu murid-muridnya dan juga semua orang yang bertmu dengannya. Marhaban bikum syaikhuna.... ahlan bikum... ucap badui menyambut kedatangan syaikh. Lalu syaikh Hasan menyerahkan satu paket hadiah berupa kaset murattal 30 juz dengan qari’ terkemuka sekaligus imam masjid Nabawi Madinah yaitu Syaikh Ali Abdurrahman Al-Hudzaifi. Setelah satu paket kaset murattal diterima, syaikh hasan berpesan pada sang badui,”dengarkan kaset ini dengan seksama dan hati yang khusyu’, lalu tirukan, dan jangan lupa lakukan itu setiap hari secara berulang-ulang”.
Setahun kemudian, pihak masjid -dimana sang badui berjama’ah di sana- mengundang Syaikh Hasan untuk kembali menyampaikan ceramah ramadhan. Pada kesempatan kali ini ada satu kejutan yang tak terduga oleh Syaikh Hasan, bahwa di tengah-tengah pengajian berlangsung, tiba-tiba sosok Badui berdiri dan berkata, “jazakumullah semoga Allah membalas kebaikan Syaikh Hasan, saya bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan saya untuk menghapal Al-Qur’an, walaupun sebenarnya saya adalah orang yang buta huruf yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah, saya hanya modal kaset yang dihadiahkan oleh Syaikh hasan, lalu aku mendengarkannya setiap hari, bersama itu pula hatiku dibukakan untuk dapat menghapalnya”.
Dari peristiwa ini, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil, bahwa menghapal Al-Qur’an adalah perkara yang mudah, kemudahan tersebut dapat dimiliki siapa saja yang mau mendapatkannya, dan ini adalah jaminan kemudahan dari Allah. Oleh karena itu, sudah saatnya kita untuk mulai menghapal Al-Qur’an.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (الحديد:16)
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik" ( QS. Al-Hadiid: 16)
Ada banyak cara untuk memudahkan kita dalam menghapal Al-Qur’an, diantaranya adalah dengan cara mengulang-ngulang bacaan. Misalnya saja jika kita ingin menghafalkan surat An-Nisa, maka kita bisa mengikuti teori yag dikemukakan oleh Imam Masjid Nabawi Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al Qasim berikut ini:
1- Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}
2- Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}
3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}
4- Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}
5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
6- Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}
7- Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}
8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}
9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}
10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat dalam mengulang dan menjaganya. Selamat mencoba.
Oleh : DR.Ahmad Alim,Lc,M.A
Merupakan nikmat yang agung yang saya terima di bulan Sya’ban Tahun ini adalah saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi tanah suci kembali. Kunjungan kali ini, saya mewakili Universitas Ibn Khaldun Bogor, dalam rangka mengikuti “Daurah Shaifiyah li asatidzah al-lughah al-arabiyyah”, sebuah training internasional untuk dosen-dosen bahasa Arab dan Studi Islam yang di adakan di Universitas Ummul Qura Mekah. Daurah ini pada mulanya digagas oleh Imam Masjidil Haram yaitu Syaikh DR Abdurrahman Sudais, yang disetujui oleh pihak kerajaan, dan diamanahkan kepada Universitas Ummul Qura sebagai pihak pelaksananya.
Dalam daurah ini, banyak ilmu yang saya dapatkan, lebih-lebih dalam masalah metodologi pengajaran bahasa arab untuk orang non Arab (al-arabiyah lighairi nathiqina biha). Lebih dari itu, rutin setiap selesai pelajaran di kelas, para peserta dibawa oleh pihak universitas untuk mengunjungi situs-situs sejarah tanah suci, dan menapak tilas perjuangan Rasulullah saw dan para shabatnya di Mekah dan Madinah.
Salah satu kunjungan yang sangat terkesan di benak saya, yaitu kunjungan ke jam’iyyah Tahfidz Al-Qur’an Masjidil Haram, sebuah lembaga tahfidz Al-Qur’an yang terletak di lantai dua masjidil Haram, tepatnya dekat pintu Mailk Fahd. Di situ, kami menyaksikan dua ribu para penghapal Al-Qur’an yang sedang khusyu’ menyetor hapalan mereka, mulai dari anak usia 4 tahun sampai dengan usia manula. Rasa penasaran dan kagum menyelimuti hati saya saat itu, betapa harunya saya melihat anak-anak usia dini melantunkan ayat-ayat Allah dengan begitu fasih dan merdu, saya coba dekati salah satu diantara mereka yang masih belia, kira-kira usia anak SD dan bertanya kepadanya, subhanallah.... ternyata ia dari Burma Mianmar yang sudah hapal Al-Qur’an di usia 10 tahunan.
Di sela-sela kunjungan, kami ditemani oleh Syaikh DR. Hasan Al-Bukhari,Al-Khafidz., beliau adalah bermarga Bukhari seorang ulama hadist terkenal yang tidak asing dikalangan kaum muslimin dunia. Beliau adalah ulama yang tawadhu, santun, ramah, dan berilmu tinggi. Nasehat-nasehat yang keluar dari lisannya, begitu menggugah jiwa siapa saja yang mendengarnya, bahkan tak jarang dari mereka yang meneteskan air mata, karena terharu dan tersentuh nuraninya.
Dalam kesempatan tersebut, Syaikh DR Hasan Al-Bukhari menyampaikan nasehat-nasehatnya pada kami tentang keutamaan menghapal Al-Qur'an. Bahwa tidak ada alasan bagi para pencari ilmu untuk tidak hapal Al-Qur’an. Al-Qur’an mudah dihapal, jaminan ini bukan datang dari manusia, tetapi datang langsung dari firman Allah,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS.Al-Qamar 54:17)
Singkatnya, menghapal Al-Qur’an adalah semudah tersenyum. Sulit tidaknya tersenyum adalah tergantung kondisi hati yang bersangkutan. Tentu senyum sulit bagi orang yang hatinya dipenuhi kedengkian, dan sebaliknya, mudah bagi orang yang hatinya tulus dan bebas dari penyakit. Demikian juga dengan Al-Qur’an mudah dihapal bagi orang yang hatinya bersih dan memiliki tekad yang kuat. Sebaliknya sulit bagi orang yang hatinya kotor dan lemah cita-cita.
Selanjutnya Syaikh Hasan mengisahkan fakta yang dijumpainya di salah satu perkampungan dekat Madinah Munawarah. Saat itu, beliau menyampaikan muhadharah (pengajian) dengan tema keutamaan Al-Qur’an dan menghapalnya. Hadir di situ ratusan warga setempat dengan penuh antusias menyimak apa yang diutarakan oleh syaikh. Selesai pengajian, tiba-tiba ada seorang badui, usianya sudah setengah baya, dengan wajah terharu, dan terbata-bata ia mulai berbicara, "wahai syaikh sesungguhnya aku hanyalah seorang badui yang hanya bisa menggembalakan onta di padang pasir, saya “ummi” alias tidak bisa membaca apalagi menulis, tetapi setelah mendengar nasehat antum tadi, subhanallah hati saya amat terharu, hati kecil saya tergugah dengan lantunan ayat Al-Qur'an, demi Allah saya ingin mengisi sisa umur saya ini dengan Al-Qur'an, tolong syaikh, tolong ajari saya, ajari saya....", Syaikh Hasan menatap wajah badui tersebut dengan mata berkaca-kaca, terharu akan semangat dan antusias yang keluar dari nurani seorang hamba yang jujur dan ikhlas, seraya beliau berkata," walaqad yassarnal qur'ana liddzikri fahal min mudzakir, sungguh Allah telah memudahkan Al-Qur'an untuk dihapal bagi orang-orang yang memang tulus untuk mengambil pelajaran darinya". Sesaat Syaikh Hasan terdiam sejenak, berfikir apa yang harus dilakukan untuk membantu memudahkan hapalan sang badui tersebut. Tidak lama kemudian, beliau berkata, " saudaraku, insyaallah saya akan kesini lagi bertemu denganmu minggu depan, ada sesuatu yang ingin saya hadiahkan untukmu". Mendengar hal itu, sang badui pun menganggukkan kepala, tanda bahwa ia setuju dan sepakat dengan apa yang dijanjikan oleh Syaikh Hasan tersebut. Waktu berlalu, tidak terasa hari yang ditunggu telah tiba. Tampak dari sosok laki-laki yang mengenakan jubah putih yang dilengkapi serban putih terurai di kepala yang tidak lain itu adalah Syaikh hasan, di tangannya tampak bingkisan yang dijanjikan minggu yang lalu, dengan senyum yang begitu khas dan wajah yang begitu ramah syaikh Hasan menyapa seraya berucap assalamu'alaikum ya akhil habib, sambil memeluk sang badui yang sudah sejak tadi menunggunya di depan pintu masjid, "barakallahu fikum, kaifa halukum, hayyakumullah, kaifa ahlikum..... semoga Allah memberkahimu, bagaimana kabarmu, semoga Allah memuliakanmu, bagaimana kabar keluargamu...". Subhanallah..... kata-kata indah yang penuh berkah, penyejuk hati, pelipur jiwa, seakan embun yang menetes di padang pasir yang gersang. Kebiasaan ini sudah menjadi ciri khas syaikh Hasan ketika bertemu murid-muridnya dan juga semua orang yang bertmu dengannya. Marhaban bikum syaikhuna.... ahlan bikum... ucap badui menyambut kedatangan syaikh. Lalu syaikh Hasan menyerahkan satu paket hadiah berupa kaset murattal 30 juz dengan qari’ terkemuka sekaligus imam masjid Nabawi Madinah yaitu Syaikh Ali Abdurrahman Al-Hudzaifi. Setelah satu paket kaset murattal diterima, syaikh hasan berpesan pada sang badui,”dengarkan kaset ini dengan seksama dan hati yang khusyu’, lalu tirukan, dan jangan lupa lakukan itu setiap hari secara berulang-ulang”.
Setahun kemudian, pihak masjid -dimana sang badui berjama’ah di sana- mengundang Syaikh Hasan untuk kembali menyampaikan ceramah ramadhan. Pada kesempatan kali ini ada satu kejutan yang tak terduga oleh Syaikh Hasan, bahwa di tengah-tengah pengajian berlangsung, tiba-tiba sosok Badui berdiri dan berkata, “jazakumullah semoga Allah membalas kebaikan Syaikh Hasan, saya bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan saya untuk menghapal Al-Qur’an, walaupun sebenarnya saya adalah orang yang buta huruf yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah, saya hanya modal kaset yang dihadiahkan oleh Syaikh hasan, lalu aku mendengarkannya setiap hari, bersama itu pula hatiku dibukakan untuk dapat menghapalnya”.
Dari peristiwa ini, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil, bahwa menghapal Al-Qur’an adalah perkara yang mudah, kemudahan tersebut dapat dimiliki siapa saja yang mau mendapatkannya, dan ini adalah jaminan kemudahan dari Allah. Oleh karena itu, sudah saatnya kita untuk mulai menghapal Al-Qur’an.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (الحديد:16)
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik" ( QS. Al-Hadiid: 16)
Ada banyak cara untuk memudahkan kita dalam menghapal Al-Qur’an, diantaranya adalah dengan cara mengulang-ngulang bacaan. Misalnya saja jika kita ingin menghafalkan surat An-Nisa, maka kita bisa mengikuti teori yag dikemukakan oleh Imam Masjid Nabawi Syaikh Dr. Abdul Muhsin Al Qasim berikut ini:
1- Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}
2- Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}
3- Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}
4- Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}
5- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
6- Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}
7- Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}
8- Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}
9- Bacalah ayat kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}
10- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat dalam mengulang dan menjaganya. Selamat mencoba.
Langganan:
Postingan (Atom)