KH.Abdullah bin Nuh: Ulama dan Tokoh Pendidikan Islam
Siti Qomariyah, M.Pd.I
Abdullah bin Nuh adalah seorang ulama, tokoh pendidikan, Satrawan dan pejuang. Beliau sebagai Pembina Yayasan Al Ghazali dan al Ihya’ Bogor. Disamping itu beliau juga sebagai Lektor Kepala Bahasa Arab Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, sebagai anggota pasukan PETA untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Dan menjadi Daidanco/ Komandan (1943-1945) . Abdullah bin Nuh dilahirkan di kota Cianjur pada tanggal 30 Juni 1324 H/ 1905 M, dan wafat di Bogor, 26 Oktober 1987. Beliau putera dari seorang ibu bernama Nyi Rd. Hj. Aisyah dan dari seorang ayah bernama KH. Nuh bin Idris, yaitu seorang ulama terkenal, sastrawan, penulis, pendidik, dan pejuang. KH. Nuh bin Idris adalah seorang ulama besar Islam di Cianjur, dan pejabat konstituante pertama di Jawa Barat dari partai Islam (Masyumi). Karenanya pendidikan dasar agamanya diperoleh langsung dari ayahnya . Raden KH. Nuh; putera Rd. H. Idris, putera Rd. H. Arifin, putera Rd. H. Sholeh putra, Rd.H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. AnaWiratanudatar I (Dalem Cikundul) .
KH Abdullah bin Nuh mempunyai dua isteri. Isteri yang pertama yaitu: Ibu Cianjur, Almarhumah Ny. Rd. Mariyah (Ibu Nenden). Putra-putri yang dilahirkan adalah: 1. Rd. Ahmad (Tanggerang) 2. Rd. Wasilah (Tanggerang). 3. Rd. Hj. Romlah (Kotaparis, Bogor) 4. Rd. Hilal (Sukaraja, Bogor), 5. Rd. Hamid (Australia). Dan isteri yang kedua adalah Ibu Bogor adalah Dra. Hj. Mursyidah (Ummul Ghazaliyyin), Putra-putrinya adalah :1. Rd. Aminah (almarhumah) 2. Rd. Aisyah (almarhumah) 3. Rd. Hj. Mariyam 4. Rd. Zahro (almarhumah) 5. Rd. Zulfa 6. Rd. H. Toto Mustofa .
Riwayat Pendidikan KH. Abdullah bin Nuh.
Sejak kecil Abdullah bin Nuh memperoleh pendidikan agama Islam dari ayahnya, KH. Raden Nuh, seorang ulama di kota Cianjur Jawa Barat. Di samping itu, Abdullah bin Nuh belajar di sekolah I’anah at-Thalib al-Miskin yang didirikan oleh ayahnya. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikannya di Madrasah Arabiyyah yang benama “Syamailul Huda” yang terletak di Jalan Dahrian (sekarang Jalan Semarang) di kota Pekalongan .
Pada akhir tahun 1922, gurunya AI-Ustadz Sayyid Muhammad bin Hasyim pindah ke Surabaya ; Rd. Abdullah bin Nuh ikut serta. Selanjutnya mulai belajar dan mengajar di Hadrolmaut School, di sebuah gedung besar dan tinggi, letaknya dekat jembatan besar di Jalan Darmokali, Sayyid Muhammad bin Hasyim mendirikan sekolah “Hadrolmaut School” untuk menyebarkan ilmunya dan melatih anak-anak didik yang dibawanya dari Pekalongan. Gedung “Hadrolmaut School” adalah tempat Rd. Abdullah bin Nuh dan teman-temannya dididik, dibina, digembleng cara praktek mengajar, berpidato, memimpin, dan menguasai bahasa Arab, Perancis, Inggris, Belanda dan Jerman .
KH. Abdullah bin Nuh menguasai bahasa Arab sampai tingkat tinggi, yaitu mampu menciptakan syair Arab dalam berbagai bentuk dan tujuan, seperti syair pujian dan ratapan. Syair-syairnya telah dihimpun dalam Diwan Ibn Nuh, berupa qasidah (118 qasidah) yang terdiri dari 2.731 bait. Semuanya digubah dalam bahasa Arab fusha (fasih) yang bernilai tinggi. Karena kecerdasan dan kemampuannya berbahasa arab pada tahun 1926, beliau dikirim belajar ke Fakultas Syariah Universitas al-Azhar (Kairo) . Abdullah bin Nuh belajar di Mesir hanya selama dua tahun, dikarenakan putra gurunya yang beliau temani tidak merasa krasan dan pulang, maka Abdullah bin Nuh pun pulang ke Indonesia. Hasil dari pendidikannya, menjadikan penguasaan beliau terhadap ilmu agama semakin mendalam.
Dari tahun 1939 s.d 1942 beliau tetap bertempat tinggal di Panaragan, dan setiap hari mengajar ngaji para Kyai. Walaupun Abdullah bin Nuh ilmunya telah begitu luas, tetapi selama di Bogor beliau masih terus menambah ilmunya dari seorang ulama (Mufti Malaya) yaitu Sayyid ‘Ali bin Thohir .
Pengabdiannya kepada Masyarakat
Abdullah bin Nuh adalah ulama dan tokoh pembaharu pendidikan di Indonesia yang gigih memajukan pendidikan. Beliau tidak mengenal lelah dalam perjuangan. Pengabdiannya ke Masyarakat dimulai sejak beliau masih muda sampai wafatnya .
Pada tahun 1922-1926 Abdullah bin Nuh aktif mengajar di Hadramaut School, sekaligus menjadi redaktur Hadramaut, majalah mingguan edisi bahasa Arab di Surabaya. Pada tahun 1927 Abdullah bin Nuh pulang dari Mesir ke Indonesia (di Cianjur dan pada akhir tahun 1927 pergi ke Bogor ). Beliau mengajar di Madrasah Islamiyah yang didirikan oleh Mama Ajengan Rd. Haji Manshur. Dan Mu’allim yang berada di sekitar Bogor. Pada awal tahun 1928 beliau pindah ke Semarang tetapi tidak lama yaitu hanya 2 (dua) bulan, kemudian kembali ke Bogor. Lalu pulang lagi ke Cianjur dan beliau membantu (jadi guru bantu) mengajar di AI-I’anah, waktu itu mudirnya AI-Ustadz Rd. H.M. Sholeh AI-Madani Selanjutnya pada tahun1928-1943 beliau mengajar di Cianjur dan Bogor .
Semenjak awal 1946, situasi politik terus meningkat dan ketegangan serta pergolakan terjadi di mana-mana. Beliau diutus ke Jogyakarta. Dan dari sinilah nampak bahwa Abdullah bin Nuh adalah benar-benar seorang ulama dan pejuang yang pandai membagi waktu. Walaupun tugas beliau sangat berat, sebagai tentara yang mewakili Jawa Barat dan anggota KNIP, namun beliau masih sempat mendirikan RRI Jogyakarta siaran Bahasa Arab dan bersama dengan KH. Abdul Kohar Muzakkir kemudian mendirikan STI (Sekolah Tinggi Islam). Di kemudian hari berubah nama menjadi UII(Universitas Islam Indonesia). Yang lebih unik lagi adalah dimanapun beliau berada, tetap tidak melupakan tugas kekiyaian, yaitu mengajar ngaji. Hasil didikan beliau waktu di Jogyakarta diantaranya adalah Ibu Mursyidah dan AI-Ustadz Basyori Alwi, yang telah berhasil membuka Pesantren yang megah di JI. Singosari No.90 dekat kota Malang, dan banyak lagi Asatidz hasil binaan beliau.
Pada tahun 1934 di Ciwaringin Bogor didirikan Madrasah P.S.A. (Penolong Sekolah Agama). Maksud didirkannya PSA adalah untuk mempersatukan madrasah-madrasah yang ada di sekitar Bogor . Adapun susunan Pengurus P.S.A. adalah :Ketua, Mama Ajengan Rd. H. Mansur, Sekretaris M.B. Nurdin (Marah Bagindo), Inspektur K. Usman Perak. Ketua Dewan Guru/ Direktur. AI-Ustadz Rd.H.Abdullah bin Nuh, Pembantu/ Sekretaris Rd. Ali Basah. Selain memimpin madrasah-madrasah, juga AI-Ustadz mengajar di MULO (SLTP). Pada tahun 1939 Madrasah P.S.A, pindah ke jalan Bioskop .
Pada tahun 1950-1970 Abdullah bin Nuh menetap di Jakarta selama lebih kurang 20 tahun, Di Jakarta inilah beliau menjadikan ibukota sebagai arena beribadah kepada Allah Swt. dan pengabdiannya kepada masyarakat. Beliau mengajar ngaji para asatidz/ Mu’allimin, memimpin Majlis-majlis Ta’lim, menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat. Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board). Kemudian pernah pula menjadi Dosen UI (Universitas Indonesia) bagian Sastra Arab, pemimpin Majalah Pembina dan ketua Lembaga Penyelidikan Islam. Kemudian dia menjabat Lektor Kepala Fakultas sastra Universitas Indonesia (1964-1967) .
Di samping itu pada tahun 1959 sebelum kepindahan ke Kota Bogor, beliau telah aktif memimpin pengajian-pengajian di Bogor, yaitu :1. Majlis Ta’lim Sukaraja (AI-Ustadz Rd. Hidayat) 2. Majlis Ta’fim Babakan Sirna (AI-Ustadz Rd. Hasan) 3. Majlis Ta’lim Gang Ardio (KH. Ilyas) 4. Majlis Ta’lim Kebon Kopi (Mu’allim Hamim). Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1970 Abdullah bin Nuh hijrah dari Jakarta ke Bogor. Di sinilah beliau mendirikan Lembaga Pendidikan Islam AI-Ghazaly.
Al Ghazaly sebagai Pusat Pendidikan Islam (Pesantren, Majlis Ta’lim, sekolah umum dan madrasah Diniyah).AI-Ghazaly sudah tidak asing lagi bagi Ummat Islam warga Bogor. AI-Ghazaly memiliki tiga lokasi yaitu: di Cimanggu (H. Firdaus), di Cimanggu Perikanan dan di Cibogor . AI-Ghazaly adalah Mazro’atul Akhiroh (ladang akherat) KH Abdullah bin Nuh. Tempat beliau memberikan pelajaran kepada para Ustadz dan kyai-kyai yang berada di sekitar Bogor, bahkan ada pula yang datang dari Jakarta, Cianjur, Bandung dan Sukabumi. Majlis-majlis Ta’lim yang ada dalam asuhan beliau adalah : AI-Ghazaly (Kotaparis) AI-Ihya(Batu Tapak) AI-Husna (Layungsari) Nurul Imdad (Babakan Fakultas, belakang IPB) Nahjussalam (Sukaraja). Semuanya itu adalah tempat pengabdian beliau setelah usianya lanjut. Bagi KH Abdullah bin Nuh tiada hari tanpa kuliah shubuh. Kegiatan rutin setiap minggunya adalah hari Senin s.d. Kamis di Majlis Ta’lim AI-Ihya, Jum’at s.d. Ahad di AI-Ghazaly, sedangkan Ahad siang (ba’da dzuhur) di Nahjussalam Sukaraja.
Selain itu, beliau juga mengadakan pengajian khusus untuk para pemuda, pelajar dan mahasiswa
Pada hari Sabtu tanggal 1 Muharram 1404 H, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1983, dimulailah pembangunan fisik Pesantren Nahjus Salam yang diprakarsai oleh para putera Almarhum Rd. H. Jamhur Ciwaringin Tanah Sewa beserta sesepuh dan warga Sukaraja AI-Ustadz Hasanuddin. Bangunan Pesantren tersebut selesai pada akhir bulan Rajab tahun itu juga. Peresmian yang langsung diisi oleh KH Abdullah bin Nuh, Jum’at, 25 Rajab 1404 H/ 27 April 1984, dan Ahad,12-Sya’ban (lebih kurang 2 minggu setelah peresmian) dimulai pengajian di Nahjus Salam.
Di Bogor, Abdullah bin Nuh aktif melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah, dan mendidik kader-kader ulama. Dia juga menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain di Arab Saudi, Yordania, India, Irak, Iran, Australia, Thailan, Singapura, dan Malaysia. Beliau berperan aktif dalam mensukseskan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) yang dilaksanakan di Bandung. Beliau sebagai anggota panitia dan juru penerang yang kapabel.
Perjuangan Meraih Kemerdekaan
Pada tahun1943-1945, beliau bergabung dengan pasukan PETA(Pembela Tanah Air), pada saat itu peperangan untuk memperoleh kemerdekaan RI berkecamuk. Karenanya Abdullah bin Nuh pun berjuang melawan penjajah. Beliau anggota pasukan PETA untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Dan menjadi Daidanco/ Komandan (1943-1945) . Pada tahun 1945-1946 dia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).dia menjadi anggota Komite Nasional Pusat (KNIP) diYogyakarta. Abdullah bin Nuh terus melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memimpin barisan Hizbutlah dan BKRI TKR di kota Cianjur . Beliau berjuang ingá pertengahan tahun 1945.
Pada tanggal 21 Romadhon 1363 H/ 29 Agustus 1945 M, di Jakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNlP) dan sekaligus melangsungkan sidang pertamanya. Ketua KNIP ditetapkan Mr. Kasman Singodimedjo, salah seorang mantan Daidanco PETA Jakarta. Anggota KNIP diantaranya adalah AI-¬Ustadz Rd. Abdullah bin Nuh. Pada tanggal 4 Juni 1946 Pemerintahan R.I. pindah ke Jogyakarta.Tanggal 29 Juni 1949 setelah tentara Belanda meninggalkan Jogyakarta, pasukan Republik Indonesia yang sedang bergerilya bersama rakyat masuk kembali ke Jogyakarta. Itu berarti bahwa, Jogyakarta kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Sejarah pertama kali mencatat, yaitu tanggai 17 Desember 1946, Bung Karno dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat dengan mengambil tempat di Kraton Jogyakarta. Kemudian diakhir tahun 1949 Pemerintah RI pindah ke Jakarta, dan saat itu pulalah AI-Ustadz Rd. H. Abdullah bin Nuh bersama ibu Mursyidah (isterinya) hijrah ke Jakarta
KH. Abdullah bin Nuh dan Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia.
Hizbut Tahrir (HT) adalah organisasi internasional yang mempunyai tujuan menerapkan Syari’ah Islam Kaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Karenanya Hizbut Tahrir mengajak kaum muslimin dimanapun mereka berada, termasuk Indonesia untuk mendirikan kembali sistem Khilafah dan menegakkan hukum yang diturunkan Alloh secara kaffah dalam realitas kehidupan .
HT masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an dibawa oleh ustad Abdurrahman al Baghdadi, dengan bantuan KH Abdullah bin Nuh. Beliaulah ulama yang pertama mendukung perkembangan dakwah Hizbut Tahrir. Bahkan ustad Abdurrahman al Bagdadi tinggal lama di pesantren beliau .
Peran KH Abdullah bin Nuh terhadap Hizbut Tahrir sebatas memberikan dukungan. Sekalipun demikian, apa yang dilakukan beliau cukup besar pengaruhnya terhadap perkembangan dakwah Hizbut Tahrir, karena sekitar tahun 1980-an dakwah Hizbut Tahrir di Indonesia belum dikenal masyarakat dan baru dimulai. Adapun keterlibatan anak-anak beliau pada aktifitas dakwah Hizbut Tahrir tidak nampak, kecuali pada anak yang keenam Raden Haji Toto Mustafa saat kuliah di Yordania. Akan tetapi ketika kembali ke Indonesia tidak aktif lagi di Hizbut Tahrir. Justru dari keluarga kakak Abdullah bin Nuh, yaitu Raden Haji Qosim bin Nuh, banyak sekali cucu-cucunya yang aktif dakwah di Hizbut Tahrir. Bahkan diantara mereka ada yang menjadi pimpinan daerah dan pengurus HTI di daerah. Antara lain: Eri Muhammad Ridwan bin Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai Humas HTI Cianjur; Ummu Hana (menantunya) sebagai ketua DPD II Muslimah HTI wilayah Cianjur; Raden Deni bin Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai ketua DPD II HTI wilayah Sukabumi; Dan Raden Muhammad Musa Nasikin Qosnuh bin Qosim bin Nuh sebagai ketua DPD II HTI wilayah Cianjur .
Karya Tulis KH. Abdullah bin Nuh
Abdullah bin Nuh adalah ulama’ yang berwawasan luas, cakap dan produktif . Disamping beliau menyampaikan secara lisan baik sebagai dosen, atau saat berdakwah, ternyata ditengah kesibukannya, beliau juga berkarya cukup banyak, baik berbahasa Arab, Ingris, maupun bahasa sunda. Karyanya antara lain:
1. Kamus: Indonesia-Arab-Inggris yang disusun bersama Oemar Bakry.
2. Kamus Arab - Indonesia;
3. Kamus Inggris - Arab - Indonesia;
4. Kamus Arab - Indonesia – Inggris. Kamus ini sangat populer dan banyak diminati, sehingga beberapa kali dicetak ulang.
5. Kamus Bahasa Asing (Eropa), berkisar hubungan: - diplomatik politik- ekonomi, dll.
6. Al-Alam al-Islami (Dunia Islam). Buku ini berisi tentang penjelasan bahwa dunia Islam amat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan, dan dunia Islam mempunyai peradaban yang tinggi.
7. Fi Zilal al-Ka’bah al-Bait al-Haram (Di Bawah Lindungan Ka’bah). Buku ini berisi tentang Ka’bah adalah sebagai tempat pemersatu kaum muslim dibawah naungan kalimat tauhid. Perbedaan madzhab tidak boleh menjadi penghalang persatuan umat Islam. Tidak ada sektarian dalam Islam, dan tidak ada fanatisme kelompok/golongan dalam Islam.
8. La Thaifiyata fi al-Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam). Buku ini berisi tentang ijtihad sudah ada sejak Rasulullah Saw, dan dari ijtihad ini muncul madzhab. Berpegang pada madzhab itu penting, tapi jangan sampai memecah belah antar penganut madzhab yang berbeda.
9. Ummah Wahidah (Umat yang Satu). Dalam buku ini KH Abdullah bin Nuh menegaskan bahwa pesatuan umat adalah sesuatu yang penting. Karenanya perbedaan berbagai latar belakang, suku, ras, dan budaya tidak boleh dijadikan sebagai penghalang persatuan umat.
10. Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun (Saya Seorang Islam Sunni Pengikut Syafi’i). Buku ini berisi pernyataan bahwa Abdullah bin Nuh adalah Sunni bermadzhab Syafi’i. Dan merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menyangka Abdullah bin Nuh adalah Syi’ah .
11. Mu’allimu al-‘Arabi (Guru Bahasa Arab). Buku berbahasa Arab dan diterjemahkan dalam bahasa Sunda. Buku ini berisi tentang methode praktis mempelajari bahasa Arab.
12. Kitab Durus al Lughah. Buku pelajaran bahasa arab tentang mufradat dan methode tashrif.
13. Kitab Durus al Arabiyah. Buku bahasa Arab, terdiri dari 5 jilid, dengan sistem terjemah kedalam bahasa Indonesia, insya’, tashrif al kalimah dan tanya jawab.
14. Al-Lu’lu’ al-Mansur (Permata yang bertebaran). Buku berbahasa Arab ini merupakan kumpulan artikel KH Abdullah bin Nuh dalam bentuk prosa.
15. Cinta dan Bahagia.
16. Al Muntashar al Mahdi. Buku ini berisi tentang hadits-hadits yang kontroversial, yaitu kumpulan hadits-hadits tentang datangnya al Mahdi pada hari kiamat.
17. Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw. Buku ini menggambarkan akhlak Rasulullah dan keluarganya, Dan Abdullah bin Nuh mengajak kaum muslim meneladaninya .
18. Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten. Buku ini berisi tentang masuknya Islam di Jawa Barat. Dan buku ini mendapat apresiasi dari sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara.
19. Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam).
20. Kitab berbahasa Sunda, karya terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah).
21. Karya terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan),
22. Al-Islam wa al Syubhah al Ashriyah (Islam dan Masalah Syubhat Kontemporer). Buku ini berisi tentang jawaban Islam atas permasalahan syubhat yang terjadi di masyarakat.
23. Islam dan Marxisme. Buku ini berisi tentang penjelasan bahwa ajaran Marxisme-Komunisme bertentangan dengan Islam. Ajaran Marxisme dibangun atas dasar keyakinan tidak adanya Tuhan, sedangkan ajaran Islam dibangun atas keimanan kepada Allah Swt. Buku ini membawa misi dakwah untuk memahamkan kepada masyarakat saat itu, tentang kesesatan ajaran Komunis. Tujuannya agar akidah kaum muslim terbentengi dari bahaya komunis.
24. Islam dan Dunia Modern
25. Risalah As-Syuro
26. Ringkasan Sejarah Wali Songo
27. Pembahasan Tentang Ketuhanan
28. Wanita Dalam Islam
29. Zakat Modern. Buku ini berisi implementasi zakat pada dunia modern, tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan sosial ekonomi masyarakat, dan meminimalisir kesenjangan sosial.
30. Akhlak. Buku berbahasa Sunda yang berisi tentang ringkasan akhlak. Diambil dari Riyadlah an Nafs, salah satu bab dari kitab Ihya’ Ulumuddin, karangan Imam Ghazali.
31. Al Mustashfa’. Buku ini berisi tentang kajian fikih Islam.
32. Dzikir. Buku ini juga berbahasa Sunda yang berisi tentang ringkasan akhlak, yang diambil dari Dzikr al Maut wa ma ba’dah, salah satu bab dari kitab Ihya’ Ulumuddin, karangan Imam Ghazali.
33. Renungan. Terjemahan dari kitab Ihya’ Ulumuddin, karangan Imam Ghazali.
34. Nushush fi Hibbah (Dalil-Dalil Hukum tentang Hibah). Buku ini berisi dalil-dalil hukum tentang hibah.
35. Diwan Ibn Nuh, berupa qasidah (118 qasidah) yang terdiri dari 2.731 bait. Semuanya digubah dalam bahasa Arab fusha (fasih) yang bernilai tinggi
36. Barahin Nuayyid Ahl al Sunnah wa al Jama’ah ( Keterangan – keterangan yang menguatkan Ahl al Sunnah wa al Jama’ah. Buku ini berisi keterangan keterangan yang memperjelas Ahl al Sunnah wa al Jama’ah.
Penutup
KH. Abdullah bin Nuh adalah seorang ulama, tokoh pendidikan, Sastrawan dan pejuang kemerdekaan. Beliau termasuk ulama’ yang berwawasan luas, cakap dan produktif. Karyanya cukup banyak dan sangat bermanfaat bagi umat. KH. Abdullah bin Nuh berhasil mendirikan Yayasan Pendidikan Islam, Majlis Ta’lim, dan Pesantren.
Dalam pengembangan bahasa Arab di Indonesia jasa beliau juga patut diperhitungkan. Konribusinya antara lain menjabat sebagai Kepala Seksi Bahasa Arab pada Studio RRI Pusat, dan mendirikan RRI Jogyakarta siaran Bahasa Arab Selain itu juga aktif dalam kantor berita APB (Arabian Press Board); Dosen UI (Universitas Indonesia) bagian Sastra Arab; Lektor Kepala Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Indonesia. Lebih dari itu beliau juga melengkapinya dengan menulis empat buku yang berkaitan dengan pengembangan pelajaran bahasa arab. Salah satu bukunya ada yang terdiri dari lima jilid.
Di tengah kesibukannya, beliau juga menulis buku cukup banyak. Buku-buku beliau meliputi: Pengembangan pelajaran bahasa Arab; Pentingnya persatuan umat, Akhlak, Tashawwuf, Pendidikan Islam dan Menjawab problematika umat.
Demikian tulisan tentang ketokohan KH. Abdullah bin Nuh. Sosok ketokohan yang patut sebagai suri tauladan bagi kaum kaum muslimin yang mendambahkan ”Izzul Islam wal Muslimin”.
Daftar Pustaka
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Bandung, Salamadani Pustaka Semesta, Cetakan I.
Herry Muhammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh, Jakarta, Gema Insani, 2006, Cetakan ke-2.
Ahmad Zaini Dahlan, Al Hijrah min Allah ila Allah, Bogor, Al Ihya, 1987.
Mursyidah Abdullah bin Nuh, Riwayat Hidup Almarhum Mama KH. Abdullah bin Nuh, Bogor YIC Al Ghazali, 2005, Cetakan I.
Abuddin Nata, Tokoh-tokoh pembaharu pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindi Persada, 2005.
Abdullah bin Nuh, Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun, Bogor, YIC Al ghazali.
Abdullah bin Nuh, Keutamaan Keluarga Rosulullah, Semarang, Toha Putra.
Wawancara dengan Raden Eri Muhammad Ridwan, cucu dari kakak KH Abdullah bin Nuh, yaitu Raden H. Qosim bin Nuh pada hari rabu, 07 Juli 2010.
Hizbut Tahrir, Mengenal Hizbut Tahrir, Depok, Pustaka Thariqul Izzah, 1992,
Wawancara dengan Raden Muhammad Musa, cucu dari kakak KH Abdullah bin Nuh, yaitu Raden H. Qosim bin Nuh pada hari rabu, 07 Juli 2010.
Jumat, 13 Agustus 2010
K.H. AHMAD SANUSI
K.H. AHMAD SANUSI
Pemikir dan Penggerak Islam dari Sukabumi
Ahmad Misbahul Anam,M.A
K.H Ahmad Sanusi, tokoh pembaharu asli Sunda yang coba mewujudkan pemikiran dan gerakanya di tanah kelahiranya. Tulisan berikut akan menelaah secara sederhana bagaimanas kiprah KH. Ahmad Sanusi dalam melakukan islah atau perbaikan terhadap umat dengan yang denganya berhak menyandang posisi sebagai pemikir Islam (da’i). Tokoh ini belum ada yang menulis secara komprenhensif, bahan yang ada masih sangat sederhana, selain dari kliping media ada beberapa cerita itupun juga masih sangat perlu dilakukan penggalian lebih dalam. Penelitian ilmiah berupa skripsi, tesis ataupun disertasi belum pernah ada, hanya sebatas tulisan ringan dan cuplikan di beberapa buku yang tidak membahas KH. Ahmad Sanusi. Tulisan inipun juga sangat sederhana karena data yang dipakai juga sebatas data yang ada.
Tulisan berikut, akan membedah secara sederhana dengan di dasarkan pada model penelaahan tokoh yang dipersyaratkan oleh Abu al-Hasan an-Nadwi dalam Kitabnya yang berjudul Rijal al-Fikri wa Da’wah. Seseorang bisa disebut sebagai tokoh (Rijal al-Fikri wa Da’wah) bila memenuhi tiga persyaratan utama. Pertama, ia memiliki wawasan Islam yang luas atau orang yang secara formal disebut sebagai pemikir. Kedua, ia bekerja untuk mewujudkan dan mensosialisasikan pemikiran-nya dalam kehidupanya. Ketiga, pemikiran dan tindakanya itu dimaksudkan sebagai upaya islah atau perbaikan bagi kemajuan umat.
A. PENDAHULUAN
Ajengan panggilan khas untuk seorang yang memiliki wawasan keilmuan di daerah (suku) Sunda, panggilan tersebut sebagaimana Kiyai di daerah Jawa, dan Tengku di Aceh. Ahmad Sanusi juga demikian, sebagai seorang yang berilmu ia juga biasa dipanggil dengan Ajengan Sanusi selain label Kiyai Haji, sebagaimana sebutan yang lain. Lahir di Kawedanan Cibadak, Sukabumi pada tahun 1881 dan wafat pada tahun 1950 di Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi. Sejak kecil belajar kepada ayahnya sendiri, KH. Abdurrahim, pemimpin Pesantren Cantayam di Sukabumi. Selanjutnya ia juga belajar di pesantren-pesantren di daerah Sukabumi. Berangkat ke Makkah pada tahun 1904. Setelah pulang selain mendirikan pesantren beliau juga aktif dalam pergerakan bersama ulama-ulama yang lain, bahkan pergulatanya dengan Syarekat Islam sudah dimulai sejak masih bermukim di Makkah pada tahun 1913.
Jejak warisan yang ditinggalkan-nya, yaitu berupa lembaga pendidikan yang masih bisa dilihat sampai sekarang Pesantren Genteng Babakan Sirna, Cibadak Sukabumi Jawa-Barat. Bahkan oleh Pemda Jawa Barat pernah diusulkan mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan, karena memang pernah melakukan perlawanan terhadap penjajah colonial Belanda pada masa kemerdekaan .
B. PEMIKIRANNYA TERHADAP UMAT
Pemikiran-pemikiran ajengan Ahmad Sanusi dituangkanya dalam berbagai karya, seperti Raudhatul Irfan, kitab terjamah bahasa Sunda per-kata dan dilengkapi dengan tafsir penjelas secara ringkas. Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih dipakai oleh majlis-majlis ta’lim di wilayah Jawa Barat. Karya lainya adalah serial Tamsyiyyatul Muslimin, tafsir al-Qur’an dalam bahasa Melayu (Indonesia). Setiap ayat-ayat al-Qur’an disamping ditulis dengan huruf Arab juga ditulis (transleterasi) dalam huruf Latin. Sementara banyak ulama pada waktu itu memandang usaha KH. Ahmad Sanusi sebagai suatu bid’ah yang haram, sehingga menimbulkan perdebatan yang sengit. Serial tafsir ini, sarat dengan pesan-pesan tentang pentingnya harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan di kalangan umat . Kitab lain yang juga ditulis adalah Malja al-Talibin fi Tafsir Kalam Tabb al-Alamin , dan Raudah al-‘Irfan.
Aktifitas menulisnya kembali dijalani setelah namanya di coret dari keanggotaan BPUPKI yang memwakili PUI di Masyumi karena dianggap terlalu memihak Islam. Lebih dari 75 buku ditulisnya, namun sayang karya-karya tersebut tidak semuanya sampai kepada kita.
Selama di Makkah pada tahun 1908 bersama istrinya, dalam beberapa kesempatan ilmiahnya bacaan-bacaan kaum pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Walaupun demikian ia tetap berpegang (memberikan porsi yang adil) terhadap madzhab Syafi’I.
C. IMPLEMANTASI PEMIKIRANYA
Pemikiranya di implemantasikan dalam dua bentuk, Pertama ; berupa perjuangan melalui gerakan keumatan baik dalam bentuk organisasi maupun perlawanan khususnya terhadap penjajah, dan Kedua ; berupa lembaga pendidikan pesantren.
Pemikiran dan gerakan model pertama, beliau wujudkan dalam bentuk keaktifan beliau bersama ulama-ulama yang lainya dengan mendirikan PUII dan PUI. Serta ikut terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah beserta santri-santri Pesantren Genteng Babakan Sirna pada bulan November 1926. Akibatya ia dipenjara di Sukabumi selama 6 bulan dan di Cianjur 7 bulan. Kemudian beliau diasingkan oleh pemerintah penjajah Belanda ke Tanah Tinggi Jakarta selama 7 tahun (1927-1934).
Dalam masa kemerdekaan, Ahmad Sanusi adalah tokoh SI, akibatnya ia menjadi tahanan Belanda di Batavia selama 7 tahun. Selama di pengungsian, ia menulis buku dan membentuk suatu organisasi yang bernama al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.
Yang kedua, beliau juga sangat peduli dengan dunia pendidikan diantaranya adalah pendirian Pesantren Syamsul Ulum. Beliau beralasan dengan memperhatikan pendidikan maka perubahan akan berproses. Menurut ajengan Ahmad Sanusi, ijtihad hanya bisa dilakukan oleh muslim yang menguasai alat-alatnya seperti pandai bahasa Arab, mengetahui isi al-Qur’an, mengetahui al-Hadist, dan lain-lain . Data ini penting karena, selain A. Hasan dari Persis yang menyuarakan tajdid, Ahmad Sanusi ternyata juga melakukan hal yang sama, tapi dengan cara yang berbeda, isu yang digunakan secara cultural melalui penerjemahan berbahasa sunda dan gerakan ekonomi bersama KH. Abdul Halim dari Majalengka. Beliau juga menjadi salah satu Pengurus Badan Wakaf STI, yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah dan majalah at-Tabligh al-Islam (da’wah Islam), sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (da’wah yang disampaiakn secara lisan). Al-Ittihadiyah al-islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang, namun beliau melakukan perubahan terhadap nama organisasi tersebut dengan Persatuan Umat Islam (PUI).
Pada masa awal pendudukan Jepang tahun 1942, semua partai politik dan organiasi pergerakan dibubarkan oleh penguasa Jepang. Termasuk organiasasi yang dipimpin oleh Ahmad Sanusi. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian Jepang mengeluarkan maklumat bahwa parpol dan ormas diizinkan kembalai. Federasi MIAI aktif lagi menjadi dan diubah namanya menjadi Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Sedangkan Persyarikatan Oelama (PO) diganti namanya Perikatan Oemat Islam (POI)yang kemudian diubah ejaanya menjadi Perikatan Umat Islam (PUI). Di tempat tinggal Ahmad Sanusi, beliau mendirikan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII). Seperti halnya Perikatan Ummat Islam (PUI), sejarah perjuangan PUII juga melalui proses perkembangan dan pergantian nama yang pada awal didirikanya bernama al-Ittihadiyau al-Islamiyah.
Khittah perjuangan PUII pimpinan Ajengan Ahmad Sanusi di Sukabumi secara prinsipil sama dengan khittah perjuangan PUI pimpinan KH. Abdul Halim di Majalengka. Kesamaan visi dan misi serta cita-cita kedua organisasi tersebut akhirnya mendorong kedua belah pihak untuk melebur organisasi mereka menjadi satu organisasi. Setelah melalui proses yang cukup panjang serta beberapa kali pertemuan dan perundingan, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk mendeklarasikan fusi (peleburan) organisasi Perikatan Ummat Islam (PUI) dan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan tanggal 9 Rajab 1371 H bertempat di Gedung Nasional Kota Bogor .
Namun pada tahun 1944 justru kemudian beliau diangkat menjadi salah seorang instruktur latihan yang diselenggarakan untuk mengdakan konsilidasi politik Jepang dengan umat Islam. Dan pada tahun 1944, ia diangkat oleh Jepang sebagai wakil residen di Bogor.
D. AGENDA PERBAIKAN UMAT
Dilihat dari kiprahnya yang memang berbasis pendidikan pesantren selama bersama ayahnya, demikian juga setelah kepulangannya dari Makkah. Pada tahun 1915 beliau kembali mengajar di pesantren ayahnya selama kurang lebih 3 tahun.
Pendidikan dalam artian satu kegiatan yang diharapkan akan menjadi basis berubahan secara khusus menjadi perhatian yang sangat serius oleh Ahmad Sanusi. Pendidikan yang dimaksud adalah cita-cita untuk membentengi aqidah ummat dan melahirkan pendidikan yang membebaskan. Karena disatu sisi ia menyaksikan pendidikan Islam (pesantren) tertinggal jauh oleh pendidikan yang diselenggarakan oleh misionaris Kristen, sedangkan disisi yang lain pendidikan Islam (non formal) yang ada waktu itu adalah penghulu yang menjadi ajang kepanjangan tangan pemerintah colonial .
E. KESIMPULAN
Dari pengumpulan data yang sangat sederhana ini, penulis menemukan beberapa gagasan K.H. Ahmad Sanusi khususnya dalam bidang pendidikan yaitu :
1. KH. Ahmad Sanusi adalah satu diantara tokoh umat Islam yang berusaha untuk melakukan pembinaan dimana dia tinggal dengan cara yang terbilang memilki kekhasan dan target masa depan yaitu kaderisasi ulama / pendidik.
2. Beliau memperjuangkan gagasan tersebut melalui dua jalur sekaligus. Melalui ormas bahkan partai politik tapi juga melalui lembaga pendidikan yaitu pesantren. Bahkan beliau juga melakukan reformasi pendidikan dalam konsep dan metodologi belajar. Mulai dari proses belajar di kelas, belajar dengan menggunakan kursi dan meja.
3. Untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, beliau juga menulis banyak buku, bahkan kitab tafsinya yang berbahasa Sunda menjadi bacaan yang cukup akrab dengan kebanyakan masyarakat Sunda.
DAFTAR PUSTAKA
http://pppui.blogspot.com , Jum’at, 27 Maret 2009
Sindo, 8 November 2008
Ajip Rasidi, Mengenang Deliar Noer 1926-2008, makalah tanggal 28 Juni 2008
Sejarah Singkat PUI, di terbitkan oleh Pemuda PUI, Kamis 18 Februari 2010
Rasihan Anwar, Pergerakan Islam dan Kebangsaan Indonesia, PT. Kartika Tama, Jakarta 1971, hlm. 150-152
Pemikir dan Penggerak Islam dari Sukabumi
Ahmad Misbahul Anam,M.A
K.H Ahmad Sanusi, tokoh pembaharu asli Sunda yang coba mewujudkan pemikiran dan gerakanya di tanah kelahiranya. Tulisan berikut akan menelaah secara sederhana bagaimanas kiprah KH. Ahmad Sanusi dalam melakukan islah atau perbaikan terhadap umat dengan yang denganya berhak menyandang posisi sebagai pemikir Islam (da’i). Tokoh ini belum ada yang menulis secara komprenhensif, bahan yang ada masih sangat sederhana, selain dari kliping media ada beberapa cerita itupun juga masih sangat perlu dilakukan penggalian lebih dalam. Penelitian ilmiah berupa skripsi, tesis ataupun disertasi belum pernah ada, hanya sebatas tulisan ringan dan cuplikan di beberapa buku yang tidak membahas KH. Ahmad Sanusi. Tulisan inipun juga sangat sederhana karena data yang dipakai juga sebatas data yang ada.
Tulisan berikut, akan membedah secara sederhana dengan di dasarkan pada model penelaahan tokoh yang dipersyaratkan oleh Abu al-Hasan an-Nadwi dalam Kitabnya yang berjudul Rijal al-Fikri wa Da’wah. Seseorang bisa disebut sebagai tokoh (Rijal al-Fikri wa Da’wah) bila memenuhi tiga persyaratan utama. Pertama, ia memiliki wawasan Islam yang luas atau orang yang secara formal disebut sebagai pemikir. Kedua, ia bekerja untuk mewujudkan dan mensosialisasikan pemikiran-nya dalam kehidupanya. Ketiga, pemikiran dan tindakanya itu dimaksudkan sebagai upaya islah atau perbaikan bagi kemajuan umat.
A. PENDAHULUAN
Ajengan panggilan khas untuk seorang yang memiliki wawasan keilmuan di daerah (suku) Sunda, panggilan tersebut sebagaimana Kiyai di daerah Jawa, dan Tengku di Aceh. Ahmad Sanusi juga demikian, sebagai seorang yang berilmu ia juga biasa dipanggil dengan Ajengan Sanusi selain label Kiyai Haji, sebagaimana sebutan yang lain. Lahir di Kawedanan Cibadak, Sukabumi pada tahun 1881 dan wafat pada tahun 1950 di Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi. Sejak kecil belajar kepada ayahnya sendiri, KH. Abdurrahim, pemimpin Pesantren Cantayam di Sukabumi. Selanjutnya ia juga belajar di pesantren-pesantren di daerah Sukabumi. Berangkat ke Makkah pada tahun 1904. Setelah pulang selain mendirikan pesantren beliau juga aktif dalam pergerakan bersama ulama-ulama yang lain, bahkan pergulatanya dengan Syarekat Islam sudah dimulai sejak masih bermukim di Makkah pada tahun 1913.
Jejak warisan yang ditinggalkan-nya, yaitu berupa lembaga pendidikan yang masih bisa dilihat sampai sekarang Pesantren Genteng Babakan Sirna, Cibadak Sukabumi Jawa-Barat. Bahkan oleh Pemda Jawa Barat pernah diusulkan mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan, karena memang pernah melakukan perlawanan terhadap penjajah colonial Belanda pada masa kemerdekaan .
B. PEMIKIRANNYA TERHADAP UMAT
Pemikiran-pemikiran ajengan Ahmad Sanusi dituangkanya dalam berbagai karya, seperti Raudhatul Irfan, kitab terjamah bahasa Sunda per-kata dan dilengkapi dengan tafsir penjelas secara ringkas. Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih dipakai oleh majlis-majlis ta’lim di wilayah Jawa Barat. Karya lainya adalah serial Tamsyiyyatul Muslimin, tafsir al-Qur’an dalam bahasa Melayu (Indonesia). Setiap ayat-ayat al-Qur’an disamping ditulis dengan huruf Arab juga ditulis (transleterasi) dalam huruf Latin. Sementara banyak ulama pada waktu itu memandang usaha KH. Ahmad Sanusi sebagai suatu bid’ah yang haram, sehingga menimbulkan perdebatan yang sengit. Serial tafsir ini, sarat dengan pesan-pesan tentang pentingnya harga diri, persamaan, persaudaraan dan kemerdekaan di kalangan umat . Kitab lain yang juga ditulis adalah Malja al-Talibin fi Tafsir Kalam Tabb al-Alamin , dan Raudah al-‘Irfan.
Aktifitas menulisnya kembali dijalani setelah namanya di coret dari keanggotaan BPUPKI yang memwakili PUI di Masyumi karena dianggap terlalu memihak Islam. Lebih dari 75 buku ditulisnya, namun sayang karya-karya tersebut tidak semuanya sampai kepada kita.
Selama di Makkah pada tahun 1908 bersama istrinya, dalam beberapa kesempatan ilmiahnya bacaan-bacaan kaum pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Walaupun demikian ia tetap berpegang (memberikan porsi yang adil) terhadap madzhab Syafi’I.
C. IMPLEMANTASI PEMIKIRANYA
Pemikiranya di implemantasikan dalam dua bentuk, Pertama ; berupa perjuangan melalui gerakan keumatan baik dalam bentuk organisasi maupun perlawanan khususnya terhadap penjajah, dan Kedua ; berupa lembaga pendidikan pesantren.
Pemikiran dan gerakan model pertama, beliau wujudkan dalam bentuk keaktifan beliau bersama ulama-ulama yang lainya dengan mendirikan PUII dan PUI. Serta ikut terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah beserta santri-santri Pesantren Genteng Babakan Sirna pada bulan November 1926. Akibatya ia dipenjara di Sukabumi selama 6 bulan dan di Cianjur 7 bulan. Kemudian beliau diasingkan oleh pemerintah penjajah Belanda ke Tanah Tinggi Jakarta selama 7 tahun (1927-1934).
Dalam masa kemerdekaan, Ahmad Sanusi adalah tokoh SI, akibatnya ia menjadi tahanan Belanda di Batavia selama 7 tahun. Selama di pengungsian, ia menulis buku dan membentuk suatu organisasi yang bernama al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.
Yang kedua, beliau juga sangat peduli dengan dunia pendidikan diantaranya adalah pendirian Pesantren Syamsul Ulum. Beliau beralasan dengan memperhatikan pendidikan maka perubahan akan berproses. Menurut ajengan Ahmad Sanusi, ijtihad hanya bisa dilakukan oleh muslim yang menguasai alat-alatnya seperti pandai bahasa Arab, mengetahui isi al-Qur’an, mengetahui al-Hadist, dan lain-lain . Data ini penting karena, selain A. Hasan dari Persis yang menyuarakan tajdid, Ahmad Sanusi ternyata juga melakukan hal yang sama, tapi dengan cara yang berbeda, isu yang digunakan secara cultural melalui penerjemahan berbahasa sunda dan gerakan ekonomi bersama KH. Abdul Halim dari Majalengka. Beliau juga menjadi salah satu Pengurus Badan Wakaf STI, yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah dan majalah at-Tabligh al-Islam (da’wah Islam), sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (da’wah yang disampaiakn secara lisan). Al-Ittihadiyah al-islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang, namun beliau melakukan perubahan terhadap nama organisasi tersebut dengan Persatuan Umat Islam (PUI).
Pada masa awal pendudukan Jepang tahun 1942, semua partai politik dan organiasi pergerakan dibubarkan oleh penguasa Jepang. Termasuk organiasasi yang dipimpin oleh Ahmad Sanusi. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian Jepang mengeluarkan maklumat bahwa parpol dan ormas diizinkan kembalai. Federasi MIAI aktif lagi menjadi dan diubah namanya menjadi Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Sedangkan Persyarikatan Oelama (PO) diganti namanya Perikatan Oemat Islam (POI)yang kemudian diubah ejaanya menjadi Perikatan Umat Islam (PUI). Di tempat tinggal Ahmad Sanusi, beliau mendirikan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII). Seperti halnya Perikatan Ummat Islam (PUI), sejarah perjuangan PUII juga melalui proses perkembangan dan pergantian nama yang pada awal didirikanya bernama al-Ittihadiyau al-Islamiyah.
Khittah perjuangan PUII pimpinan Ajengan Ahmad Sanusi di Sukabumi secara prinsipil sama dengan khittah perjuangan PUI pimpinan KH. Abdul Halim di Majalengka. Kesamaan visi dan misi serta cita-cita kedua organisasi tersebut akhirnya mendorong kedua belah pihak untuk melebur organisasi mereka menjadi satu organisasi. Setelah melalui proses yang cukup panjang serta beberapa kali pertemuan dan perundingan, akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk mendeklarasikan fusi (peleburan) organisasi Perikatan Ummat Islam (PUI) dan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) menjadi Persatuan Ummat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan tanggal 9 Rajab 1371 H bertempat di Gedung Nasional Kota Bogor .
Namun pada tahun 1944 justru kemudian beliau diangkat menjadi salah seorang instruktur latihan yang diselenggarakan untuk mengdakan konsilidasi politik Jepang dengan umat Islam. Dan pada tahun 1944, ia diangkat oleh Jepang sebagai wakil residen di Bogor.
D. AGENDA PERBAIKAN UMAT
Dilihat dari kiprahnya yang memang berbasis pendidikan pesantren selama bersama ayahnya, demikian juga setelah kepulangannya dari Makkah. Pada tahun 1915 beliau kembali mengajar di pesantren ayahnya selama kurang lebih 3 tahun.
Pendidikan dalam artian satu kegiatan yang diharapkan akan menjadi basis berubahan secara khusus menjadi perhatian yang sangat serius oleh Ahmad Sanusi. Pendidikan yang dimaksud adalah cita-cita untuk membentengi aqidah ummat dan melahirkan pendidikan yang membebaskan. Karena disatu sisi ia menyaksikan pendidikan Islam (pesantren) tertinggal jauh oleh pendidikan yang diselenggarakan oleh misionaris Kristen, sedangkan disisi yang lain pendidikan Islam (non formal) yang ada waktu itu adalah penghulu yang menjadi ajang kepanjangan tangan pemerintah colonial .
E. KESIMPULAN
Dari pengumpulan data yang sangat sederhana ini, penulis menemukan beberapa gagasan K.H. Ahmad Sanusi khususnya dalam bidang pendidikan yaitu :
1. KH. Ahmad Sanusi adalah satu diantara tokoh umat Islam yang berusaha untuk melakukan pembinaan dimana dia tinggal dengan cara yang terbilang memilki kekhasan dan target masa depan yaitu kaderisasi ulama / pendidik.
2. Beliau memperjuangkan gagasan tersebut melalui dua jalur sekaligus. Melalui ormas bahkan partai politik tapi juga melalui lembaga pendidikan yaitu pesantren. Bahkan beliau juga melakukan reformasi pendidikan dalam konsep dan metodologi belajar. Mulai dari proses belajar di kelas, belajar dengan menggunakan kursi dan meja.
3. Untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, beliau juga menulis banyak buku, bahkan kitab tafsinya yang berbahasa Sunda menjadi bacaan yang cukup akrab dengan kebanyakan masyarakat Sunda.
DAFTAR PUSTAKA
http://pppui.blogspot.com , Jum’at, 27 Maret 2009
Sindo, 8 November 2008
Ajip Rasidi, Mengenang Deliar Noer 1926-2008, makalah tanggal 28 Juni 2008
Sejarah Singkat PUI, di terbitkan oleh Pemuda PUI, Kamis 18 Februari 2010
Rasihan Anwar, Pergerakan Islam dan Kebangsaan Indonesia, PT. Kartika Tama, Jakarta 1971, hlm. 150-152
Langganan:
Postingan (Atom)